Pada suatu tempat dan sebuah zaman jauh sebelum kedatangan Rosulullah SAW, hiduplah seorang manusia yang menghabiskan hampir seluruh umurnya untuk mengabdi kepada Allah semata. Setiap hembusan nafas, bahkan setiap detakan jantungnya seolah diselimuti oleh alunan zikir yang tak pernah berhenti mengalir.
Sungguh sebuah pengabdian yang mencengangkan. Usia saat itu manusia masih sangat panjang. Demikian pula dengan orang tersebut, ia habiskan 500 tahun masa hidupnya untuk pengabdian tersebut. Ia berharap dengan banyaknya amalan yang ia peroleh, maka Syurga yang Allah janjikan akan ia dapatkan dengan mudah.
Hingga pada suatu saat ia meninggalkan alam fana ini. Ketika sudah berada di alam akhirat, Allah SWT berkata padanya :” Wahai hamba-Ku, masuklah kamu karena Rahmat-Ku”. Ahli ibadah itu kaget, bukankah ia masuk surga karena amal ibadah dia yang banyak. Tidak terima dengan hal itu ia pun berkata:”Tidak ya Allah, hamba masuk kedalam surga-Mu karena amal-amalku”. Allah pun mengulang firman-Nya:”Tidak wahai hamba-Ku, engkau masuk ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Kembali ahli ibadah itu menyangkal: “Tidak wahai Tuhanku, hamba mendapatkan surga karena amalanku”. Percakapan itu berulang sampai tiga kali
Sampai kemudian Allah berkata: “Baiklah jika kamu tetap pada pendirianmu, timbanglah seluruh amalan yang pernah engkau lakukan dengan salah satu nikmat yang pernah Aku berikan kepadamu, yaitu nikmat kemampuan melihat”. Malaikatpun menimbangnya, dan hasilnya membuat ahli ibadah tersebut tercengang. Bagaimana tidak, amal ibadah yang selama ini ia bangga-banggakan ternyata jauh lebih sedikit dibandingkan dengan salah satu nikmat saja dari Allah. Bagaimana jika dibandingkan dengan seluruh kenikmatan yang pernah ia dapatkan.
Hanya sesal yang kini tersisa, atas kesombongan yang pernah ia lakukan. Allah pun memerintahkan malaikat untuk melemparkannya ke Neraka. Naudzubillah himindzalik.
Sungguh kasih sayang Allah tiada terbatas. Hanya kesombongan yang membuat ia tergelincir ke jurang kenistaan
Recent Comments