TOTALITAS SANG PECINTA

29 01 2008

TOTALITAS SANG PECINTA

 

Apa kabar wahai para ‘pecinta’ ? semoga bunga ditaman hatimu semakin bersemi hingga wanginya tersebar dari setiap senyuman yang engkau semaikan dengan penuh ketulusan. Seulas senyum yang pancarkan cahaya hingga mampu sibakan awan kedukaan yang selama ini terus menggantung. Senandungkan nada-nada kasih yang kembalikan semangat untuk terus berjuang hadapi segala coba dan lara.

Wahai sahabat…saya gunakan istilah ‘pecinta’ bukan karena  ingin anda ber-melankolis ria, melainkan karena kedahsyatan ‘cinta’ itu sendiri. Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.

Sahabat…sesungguhnya profesi kita (perawat/ners) dibangun dari setiap helaan kasih sayang, kepedulian, dan ketulusan untuk meringankan beban penderitaan sesama. Hal inilah yang kemudian sang founding mother keperawatan, Rufaidah bint Sa’ad  merelakan dirinya terjun menolong korban perang, mencurahkan segala perhatian dan kasihnya..  Cintanyalah yang membuat ia berani mengambil resiko kematian yang setiap saat mengintai dalam kancah peperangan yang ia ikuti. Senyuman itulah yang selalu terpancar dari ketulusan hatinya ketika mengunjungi pelosok-pelosok perkampungan yang membutuhkan pertolongannya.

Sahabat …coba jujurlah pada nuranimu, apa yang engkau rasakan ketika mendengar kata-kata ‘perawat’? Apakah perawat adalah sesosok ‘malaikat’ yang senantiasa dirindukan kehadirannya oleh pasien yang terbaring lemah dalam sakitnya ? Ataukah seorang yang sangat menjengkelkan, dengan muka masam dan kata-kata yang sering menyakitkan ?…Apakah ia seorang profesional dengan performance yang meyakinkan sehingga bisa duduk setara dengan dokter..? ataukah ia sekedar pesuruh yang hanya bisa berkata yes sir… no sir  tanpa tahu apa yang sedang ia lakukan… ?

Sekali lagi kawan…mantapkah engkau tetapkan pilihan untuk menjadi seorang perawat ? Padahal mungkin tidak sedikit  masyarakat yang masih memandang sebelah mata akan profesi ini. Ataukah ini pelarian karena tidak bisa masuk di profesi yang menurut pandangan anda jauh lebih terhormat…?  Jujur wahai sahabat…pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu berkecamuk didalam hati saya tatkala masih menjadi mahasiswa baru disebuah instiusi keperawatan (Akper tepatnya). Sampai kemudian Allah membukakan mata hati ini, ketika mulai berinteraksi dengan pasien-pasien di sebuah Rumah Sakit. Betapa ternyata hubungan hati yang penuh dengan ketulusan merupakan obat tersendiri bagi pasien yang kita rawat. Betapa bahagianya hati ini ketika bisa melihat senyuman mereka kembali merekah  Yup…unforgettable experience yang membuat saya yakin bahwa inilah jalan terbaik yang Allah berikan. Ketetapan hati yang membuat saya tidak ingin menjadi perawat yang biasa-biasa saja (saat itu lulusan S-1 termasuk manusia langka), untuk itulah saya bertekad untuk ikut UMPTN walau dengan persiapan apa adanya. Pilihan yang dilematis karena pelaksanaan UMPTN berbarengan dengan ujian akhir semester, jika saya ikut UMPTN maka dipastikan nilai UAS saya akan jeblok.  Alhamdulillah dengan keyakinan bahwa Allah membantu saya, akhirnya bisa lolos dan diterima di UGM. Sebuah keyakinan yang mewujudkan salah satu fuzzle sebuah impian besar.

Sahabat…perawat adalah orang yang paling dekat dengan pasien, dan memang harusnya demikian. Menjadi pendengar yang baik, akan keluh kesah yang sering terlontar dari tubuh-tubuh mereka yang mulai ringkih oleh penyakitnya. Menjadi guru yang sabar menjelaskan setiap tanya yang terlontar. Seorang ibu yang dengan tulus ‘menghapus’ derai air mata kegelisahannya. Wajahnya seakan tak pernah kering menyirami hati-hati yang haus dengan setiap ‘sentuhan’ ketulusan. Cinta yang terpancar akan menjadi sebuah kekuatan yang membangkitkan semangat untuk terus bertahan.

Sahabat…walaupun keperawatan dinegeri tercinta ini memiliki sejarah yang tidak cemerlang, bahkan tertinggal puluhan tahun dari negeri tetangga, akan tetapi kini fajar mulai menyingsing. Dinamika dunia keperawatan mulai menampakan geliatnya, kalau dulu kuliah S1 atau S2 harus terbang ke negeri sebrang, kini kita bisa menikmati dinegeri sendiri. Demikian pula dengan lulusan S1 yang sudah menjadi ‘barang’ biasa dan bisa ditemuai dimana saja.

Jalan masih jauh kawan, masih ada ngarai dan gunung yang harus didaki. Masih banyak puzzle-puzzle impian kita yang belum tersusun. Mungkin saat ini kita masih berkata : “Bagaimana bisa, kuliah aja belum lulus.., IP saja masih satu koma…emangnya perawat bisa apa.. paling cumin nyuntik udah beres…”. 

Sahabat…tidak ada yang bisa kita lakukan pertama kali, kecuali meyakini bahwa “Keperawatan adalah anugrah ‘terbaik’ yang Allah berikan kepada  saya, dan saya akan menjadikan ia (keperawatan) sebagai yang terbaik diantara yang lain”. Kebanggaan, semangat, totalitas yang akan mengantarkan kita menjadi yang terbaik.  Renungkan wahai kawan …”Kebesaran Seseorang tidak ditentukan oleh bidang profesi (dokter, perawat, pilot, tentara), melainkan seberapa besar totalitas dan komitmen terhadap profesinya”. Tidak ada profesi/pekerjaan yang lebih rendah atau lebih tinggi, semuanya sama, sebagaimana Allah telah menciptkan manusia dalam keadaan beraneka ‘warna’.

Saya yakin seandainya anda ditawari pekerjaan, maka anda akan memilih sebagai dokter dibandingkan sebagai pedagang ayam goreng, Why..? karena dipandangan umum pekerjaan dokter lebih terhormat dari sekedar seorang pedagang ayam goreng. Oke…tapi apakah anda tetap dengan pilihan anda jika yang ditawarkan adalah kedudukan sebagai direktur utama Kentucky Fried Chicken ? Jujur…apakah anda berani menolaknya ?

Sahabat…KFC bisa berkembang menjadi besar karena komitmen, semangat, totalitas yang dilandasi oleh cnta dan keyakinan terhadap pekerjaannya itu. Sekali lagi cinta membuat yang lemah menjadi kuat, yang kecil menjadi besar, merubah mission impossible menjadi nothing impossible .

Sekali lagi sahabat…jika engkau masih berjuang dengan penuh keragu-raguan, jangan bermimpi untuk memenangkan pertempuran ini. Lepaskan seluruh belenggu, dan yakinkan dalam hati bahwa pilihan ini (perawat)  adalah yang terbaik untuk saya. Ingat wahai kawan Allah lebih mengenal diri kita jauh lebih baik dari kita sendiri, Ia lebih tahu siapa kita, potensi kita, dan dimanakah kita akan menjadi yang terbaik. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menanamkan keyakinan bahwa kita akan menjadi ‘manusia  besar’ dengan profesi ini.

Jika sudah yakin, kini saatnya membuktikan kepada dunia tentang kebenaran keyakinanmu itu. Bersikaplah sebagaimana orang-orang besar berusaha mewujudkan impiannya. Berjuanglah dengan penuh cinta dan keyakinan tentang kesuksesan yang tak terbatas. Bertahanlah terhadap segala cemooh sebagaimana Rosullullah, karena itu hanyalah sebutir debu dalam beningnya cermin hatimu yang kian benderang. Teruslah maju karena waktu tak pernah rela menunggu.

Kawan jangan hanya puas menjadi saksi sejarah, akan tetapi jadilah pelaku sejarah yang ikut andil sebagai penyusun puzzle impian keperawatan Indonesia. Sekali lagi kawan, berjuanglah dengan penuh cinta dan keikhlasan. Hanya kepada Allahlah kita berharap, untuk tercapainya impian yang selama ini terus membayang. Jangan tunggu orang lain, kalau bukan kita siapa lagi. Mulai saat ini kawan…jangan tunda lagi…Mari eratkan genggaman, dan berteriaklah dengan semangat yang terus berkobar…”KAMI PASTI BISA…”

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR….





MATAHARI, BULAN, & BINTANG

29 01 2008

MATAHARI, BULAN, & BINTANG

 

 
Wahai bulan apakah engkau kesepian jalani malam-malam sunyimu

Adakah asa untuk dapatkah secercah asa dari gemerlapnya bintang disana yang hanya memandang pasrah

Wahai bulan apakah ada rasa ingin kembali

Ungkapkan rasa yang kini terpendam entah kemana

 

Sungguh hati ini tak mungkin berdusta, jika rasa ada menggema

Duhai Allah Pencipta alam semesta

Engkau ciptakan bulan tuk berbagi dengan mentari

Engkau ciptakan mentari tuk pantulkan cahaya atas dirinnya

Tak mungkin dia kan bersinar, jika mentari enggan menyapa

 

Wahai bulan, apakah jadinya malam tanpa kehadiranmu

Tak kusaksikan lagi, indahnya langit bergayut mega yang memerah saga menemanimu

Takusaksikan lagi indahnya senyummu menatapku penuh harap

Tak kusaksikan lagi lembutnya suaramu saat menjawab tanyaku yang tak pernah terjawab.

 

Wahai bulan, kutahu jika diri ini bukanlah mentari yang menjadi impianmu

Yang mampu membuatmu tampak bersinar membuncah

Hingga mengundak decak setiap kali memandang cahayamu

 

Aku hanyalah bintang yang hanya mampu berkedip

Hanya harap yang terucap dalam untaian doa

Agar cahaya abadi untukmu

Bukan sekedar pantulan dari panasnya sang mentari

Aku hanyalah bintang

Yang akan menemanimu setiap kau mulai resah

Dengan mentari yang tak mungkin bersatu.

 

 Kranji, disuatu senja…





MUTIARA DIRELUNG HATI

29 01 2008

MUTIARA DIRELUNG HATI

 

Setiap hembus nafas mendesah angan

Setiap detak jantung berdegup asa

Lintasan hati yang tak bisa berpaling

Akan kemilaunya sebuah impian

 

Berharap sepenuh untaian selaksa asa

Mengalir bersama derasnya air mata doa

Menghentak setiap sendi-sendi hati

Menghujam rajam, luluhkan jiwa

 

Seutas kata tak lagi bermakna

Selain semburat resah dari hati yang kian merona

Mungkinkah ia kan mampu direngkuh

Mungkinkan ia kan terus dan terus tergenggam

 

Ya..Robb

Begitu lemahkan hati ini…

Begitu rapuhkan jiwa ini…

 

Sungguh ya..Robb

Hamba takut…jika angan ini hanyalah bisikan syetan

Hamba takut…jika asa ini hanyalah sepercik laknat

Hamba takut…jika hasrat ini lemparkanku dari belaianMu

Hamba takut…jika ia kan menghapus namaMu dari relung-relung qolbu

 

Sungguh, hamba berharap ya Robb..

Ia mutiara yang hiasi indahnya asmaMu

Ia peneduh hati tatkala matahari bersinar terik

Ia penguat jiwa tatkala, hati mulai melemah

Ia penghias jiwa dengan sinarnya yang biaskan kemilaunya mentari

Ia anugrah terindah yang Engkau persembahkan tuk buka setiap pintu syurgaMu

Yah…Ia adalah sebutir mutiara di relung hati

 

Kranji, 28 Januari 2008





ANTARA KESUCIAN CINTA DAN GELORA SANG NAFSU

29 01 2008

ANTARA KESUCIAN CINTA DAN GELORA SANG NAFSU

 

Sekali kita menengok ke kedalaman nurani kita. Cobalah bertanya kepada beningnya jiwa, bagaimanakah bentuk cinta yang sesungguhnya. Atau bertanyalah kepada merahnya darah, seberapa panaskah nafsu mampu membakar kesucian dirinya. Setiap gerak adalah pilihan, sebagaimana kita mencoba mendapatkan yang terbaik. Betapa jiwa demikian bergetar tatkala diri tak lagi bernilai dihadapan-Nya. Ataukah justru acuh meski kemurkaan-Nya tak terhitungkan.

 

Wahai jiwa yang mencoba kembali bersihkan diri, adakah engkau benar ikhlas untuk menggapai itu semua. Atau hanya semu belaka, sekedar ingin membuktikan bahwa engkau masih hormat pada-Nya.

 

Sungguh cinta tak kan pernah suci, jika darah masih menggenggam geram. Demikian pula angan kian melayang tatkala kau buai aku dengan indahnya khayalan. Begitu banyak hari berlalu tapi entah kemana hendak dituju. Mana yang angkau pilih. Putihnya hati atau gelora nafsu menggantang angan.

 

Wahai hati yang ingin kembali suci relakah jika ini terus menghantui diri. Bukankah engkau ingin tenang menata diri. Kemanakah lagi kaki ini hendak melangkah, jika jalan terjal dan ngarai curam yang kian menghadang. Meskikah ku berteriak kepada awan, antarkan diri kelaut lepas membiru. Terbang dengan sayap sekokoh sang elang. Ataukah kupasrahkan saja pada angin yang kini enggan berhembus. Biarkan raga ini terkulai lemah dengan penantian panjang akan nasib yang belum tentu adanya.

 

Hidup adalah pasangan yang tak bisa berdiri tanpa adanya perpaduan. Jika hati hendak berkata:”wahai cinta cukupkah engkau dalam hatiku, butuhkah aku akan gelora merahnya darah”. Engkaupun tersenyum sembari berucap lirih: “Wahai Tuan maukah hidup ini engkau habiskan tanpa ada semangat atau hasrat yang hendak kau capai ? “. Hatikupun segera menyahut ”Tentu tidak wahai cinta, hidup seperti apakah itu. Mati segan hidup tak mau”. Kembali engkau tersenyum ”Begitulah Tuan, nafsu adalah senjata agar jiwa selalu berwarna. Kunci ada padamu Tuan, seberapa pintar engkau menata warna itu sehingga membentuk mahakarya lukisan yang tak ternilai. Sedangkan aku akan membuatnya kian abadi”.

 

Nafsu adalah warna-warna kehidupan yang menghiasi perjalanan panjang kita didunia. Dan cinta adalah perekatnya sehingga ia kian abadi memancarkan keagungan pribadi diri. Nafsu dan cinta hendaknya berjalan seiringan menuju keridloan-Nya yang tak pernah surut.

 

Kranji, 4 November 2007





GURUKU YANG HEBAT

26 01 2008

Afik, 5 tahun, dengan penuh semangat..

“Ade punya ustadzah baiiiik..banget. nggak pernah marah kaya ibu he..he..